Arsip Blog

Hujan di Indonesia itu Musibah, Kata Temanku

Hujan deras disertai angin kencang mengiringi perjalanan pulang dari Purwodadi menuju Gubug. Jarak pandang mungkin hanya 5 meter saja dari dalam mobil, kemudian aku menyarankan kepada Bapak Nuryadi yang aku tumpangi mobilnya untuk mampir ngiyup saja daripada bahaya. Aku malah jadi takut teringat berita-berita di televisi ada mobil yang kejatihan dahan pohon karena angin kencang.

Akhirnya kami mampir di SPBU di Mrapen sambil menunggu hujan agak reda. Ternyata disana juga sudah ada beberapa sepeda motor yang mampir ngiyup juga. Lama sekali kami di Pom Bensin itu, duuh bagaimana lele-leleku di kolam belakang rumah ya. Kalau hilang kebawa air hujan kan sayang.
image

Entah bajuku yang kekecilan atau udara dingin yang tak bersahabat membuat dadaku sesak. Aku memutuskan untuk keluar dari mobil Pak Nur sambil menikmati derasnya hujan. Tapi sesak nafasku belum juga reda. Di jalan sana ada beberapa pengendara motor sedang menuntun motornya karena macet terkena air hujan yang sudah membanjiri jalan.

Kalau aku pikir memang benar apa kata temanku yang berasal dari Mesir dulu kalau hujan di Indonesia ini seperti musibah. Kadang saja halilintar seperti menggelegar diatas kepala. Belum angin dan akibat banjirnya. Sayangnya karena mungkin orang Indonesia sudah terbiasa ya tidak apa-apa. Malah sekarang membangun rumah setinggi-tingginya tanpa peduli sekitarnya.