Makan Siang Gratis

Ba’da sholat dhuhur di masjid PKU Muhammadiyah Gubug, aku ajak kedua santriku menuju sebelah Rumah Sakit untuk mengikuti acara resepsi pernikahan putri Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gubug. Kami berjalan menuju ke rumahnya melewati gedung rumah sakit. Ternyata jalan dari rumah sakit ini langsung menuju ke ruang makan prasmanan yang disediakan oleh tuan rumah. Terpaksa aku memutar menuju ke pintu utama untuk mengisi buku tamu dan bersalaman mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada sepasang pengantin yang sedang berbahagia.makan enak

Dua santriku ternyata masih menungguku di tempat makan. Mereka berdiri menungguku yang sedang bersalaman tadi.

“Lho kok durung mangan?” (Lho kok belum makan?) tanyaku

“Ra wani mas, mengko nak diseneni piye?” (G berani mas, nanti kalau dimarahi gimana?

“Wes, ra po po, kui jejer-jejer kae rasakke kabeh, ora usah wedi” (Sudah g apa-apa, itu berjejer dirasakan semua, g usah takut)

Aku mengawali mengambil makanan yang aku lupa namanya, makanan ini berisi daging giling sapi goreng, buncis dan wortel direbus, kemudian diberi kuah kental yang ada bawang bombaynya. Kedua santriku tadi mengikuti langkahku menuju ke kursi untuk menyantap makanan. Setelah habis, aku kemudian mengambil tengkleng tanpa nasi, takut kekenyangan. Aku perhatikan kedua santriku mengambil lontong sate di gerobak sebelah.

Selesai menyantap makanan, aku ajak mereka untuk pulang. Tapi mereka yang awalnya malu-malu jadi enggan untuk pulang karena sibuk merasakan semua jenis makanan yang disajikan di pesta pernikahan ini. Ada nasi rames, nasi rawon, bakso, lontong sate, martabak, es dung, dan lupa namanya…

“Ayo bali” (yuk pulang)
“sek to mas, aku arep ngrasakke sing kae” (bentar mas, aku mau ngrasain yang itu)
“Mau jare isin?” (tadi katanya malu?)

Ya sudah, terpaksa aku menunggu mereka menikmati kebahagiaan kecil mereka. Daripada aku ajak pulang tapi masih penasaran. Saat perjalanan pulang, aku lihat salah satu santriku membawa es dung ditangannya. Hhmmm…. astagfirullah….

Aku jadi ingat suatu hari waktu kuliah dulu dosenku pernah bercerita tentang Asisten Rumah Tangga (ART) barunya yang datang dari desa. ARTnya ini makan lahap dan banyak sekali, padahal seorang perempuan. Nah, ketika malam harinya istri si dosen ini mengeluhkan hal itu kepada suaminya kok ARTnya makan banyak banget. Dosen saya menjawab kepada istrinya

“Bisa jadi itu adalah kebahagiaan bagi dia, karena di desanya tidak ada makanan itu”

Iklan

About mas huda

Saya sedang belajar fotografi dengan pinjam-pinjam kamera, cita-citanya sih pengen jadi fotografer profesional... aamiin

Posted on 05/01/2014, in cerita and tagged . Bookmark the permalink. 10 Komentar.

  1. Mantab dah…. gratis plus halal=berkah

  2. mumpung gratis 😀

  3. hmmmmmmmmm pernah merasakan betapa berharganya makan gratis itu

  4. Renungan tersembunyi di akhir artikel. Mantap 😀

    wongndeso1994.wordpress.com/2014/01/06/vixion-ban-kebo-vs-vixion-ban-cacing/

  5. bahagia jane sederhana yo pak 😀
    misale ngajak keluarga di kampung jalan2 ke kota,.. seneng campur kudu guyu liat ekspresinya 😀

  6. mumpung gratisan ya sikaaaatttttt

corat-coret yuk....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: